“Ba’a kabanyo? Lai elok-elok sajo?”

Jakarta – “Ba’a kabanyo? Lai elok-elok sajo?”. Kalimat dalam bahasa Minang itu diucapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya di GOR Dharmasraya, Sumatera Barat, Rabu (7/2/2018) pekan lalu. Kalimat itu artinya, Apa kabar? Baik-baik saja kan?.

Sekitar 4.000 warga Sumatera Barat yang 3.000 di antaranya berasal dari Kabupaten Dharmasraya serentak menjawab, “Elok Pak”.

Seperti sudah menjadi rutinitas, setiap kali berkunjung ke daerah Presiden Jokowi selalu menyelipkan bahasa lokal. Meski itu hanya satu kalimat saja.

Saat meresmikan Bandara Internasional Silangit, Siborong-borong, Tapanuli Utara pada 24 November 2017 Jokowi menyelipkan bahasa batak saat pidato. Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan bahwa Bandara Silangit akan menjadi pintu gerbang bagi wisatawan. Selain itu, ini menjadi gerbang kreativitas dalam pelestarian adat Batak.

“Gerbang untuk marsipature hutanabe atau membangun kampung halaman dan terutama gerbang menuju peningkatan kemakmuran masyarakat seluruh tano Batak,” kata Jokowi.

“Bukka ma pittu, bukka ma harbangan. Ai nunga rade labuan ni hopal habang internasional,” tambah Jokowi, kali ini disambut tepuk tangan hadirin. Arti kalimat tersebut kurang lebih, “Terbukalah pintu, terbukalah gerbang, karena sudah tersedia lapangan terbang internasional.”

Setelah gemuruh tepuk tangan berhenti Jokowi kembali berucap, “Pidong na habang, pasarma barita on tu luat portibi.” Artinya, agar burung-burung yang terbang memberitakan kabar baik ini ke seluruh dunia.

Tak hanya saat berkunjung ke daerah, dalam pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-72 RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2017), Jokowi menyapa warga Sabang, Miangas dan Merauke dengan bahasa daerah.

“Saudara-saudaraku di Merauke, Namek-Namuk, Izakod Bekai Izakod Kai, Satu Hati Satu Tujuan,” ujarnya.

Jokowi juga menyapa warga Miangas. “Saudara-saudaraku di Miangas, Tabea, Sansiote Sang Patepate Salam, Kebersamaan dalam Persatuan,” ungkap Jokowi.

Sapaan Jokowi untuk warga Rote disampaikan sebelum bicara soal pembangunan manusia dan infrastruktur. “Saudara-saudaraku di Rote, Ita Esa, Kita adalah Satu Kesatuan,” ucapnya.

Peneliti The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes melihat gaya komunikasi Jokowi lebih akrab membaur dengan masyarakat lokal.

“Jokowi ingin membaur dengan masyarakat salah satu cara dengan mempengaruhi psikologi masa itu ya tentu adalah berkomunikasi dengan dialek lokal,” kata Arya saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/2/2018).

Dia juga melihat selama ini Jokowi ketika bertemu warga selalu menghindari pola komunikasi formal sehingga tidak kaku dan tidak terikat protokoler.

Gaya komunikasi itulah yang membedakan model komunikasi Jokowi dengan presiden-presiden sebelumnya.

(erd/jat)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan